Senin, 26 September 2011

Menganalisis Cerpen dengan Menggunakan Pendekatan Struktural (Objektif)

Judul cerpen : Lara Lana (dari kumpulan cerpen dan prosa ‘Filosofi Kopi’)
Penulis : Dewi Lestari
Penerbit : Gagas Media
Tahun terbit : 2006
Lara Lana
Sederet angka mencuat dari kertas putih, menusuk mata Lana. Ada sebersit takjub juga ngeri. Seberantak angka yang susah dihafal mampu membongkar kenangan usang dan memberikannya makna baru. Dia yang baru. Aku yang usang. Ruang tunggu selalu memancing dilema dalam hatinya, tapi tidak pernah seperti ini. Lana betul-betul tergerak untuk menelepon. Mungkin karena Lana sudah tidak yakin kapan akan kembali, akankah dirinya kembali. Lana memencet empat angka pertama dari sepuluh digit yang tertera. Dadanya berdegup kencang sampai sakit rasanya. Bibirnya bergetar resah, mengantisipasi. Begitu terdengar nada sambung nanti, Lana siap berekspresi layaknya pose unyuk berfoto yang terakhir kali. Kata ‘apa kabar’ akan meluncur dengan semangat penghabisan menteri sore sebelum dipadamkan malam. Lalu ia lancarkan sepaket basa-basi dalam urutan yang tepat, seperti yang selalu dilatihkannya dalam hati sebelum ia lelap tidur, agar percakapan mereka tercatat sejarah sebagai yang paling mengasyikkan. Lalu perasaan itu. Rasa rindu yang akan ia ungkap hati-hati, dicicil sehingga tidak terasa picisan. Rasa sayang dikemas dalam kiasan seperti membungkus puteri dalam gaun persta lalu dilepas anggun ke lantai dansa. Cantik mengundang tapi membuat segan. Semua itu telah dilatihkannya berhari-hari. Bertahun-tahun. Dua angka sebelum digit terakhir. Jarinya tertahan oleh detik yang tahu-tahu beku. Detik yang tahu-tahu melebar dan membentangkan dua puluh tiga tahun perkawanan. Dia selalu memuja Lana, begitu kata orang-orang. Tapi mereka tak bisa bersama karena alasan yang tak perlu dipertanyakan lagi. Kamu itu bajaj bermesin BMW, begitu Lana mengungkapkan padanya saat didesak. Lana kenal banyak BMW bermesin bajaj, dan semua itu habis ia hina-hina. Untuk benar-benar bersanding sebagai pacar Lana, seseorang harus menjadi mobil mewah Eropa luar dalam. Lana yang unik dan glamor. Kamu cukup jadi kacung intelektualku saja, kata Lana padanya. Mereka berdua lantas tertawa-tawa, mereka suka perumpamaan itu, sekalipun hatinya patah setiap kali kata ‘kacung’ terlontar dari bibir Lana yang menguncup menggemaskan. Dia ingin jadi pendekar sakti, seorang master, ilmuan kaya raya yang menciptakan temuan-temuan hebat untuk memajukan umat manusia. Lana ingin menjadi kelompok ultraelit yang memperoleh teknologi dari makhluk Mars untuk membangun koloni rahasia di bulan. Mereka percaya teori konspirasi dan secara berkala bertukar informasi yang dikarang sendiri. Tak ada orang lain yang mampu menghibur Lana sebegitu sempurna, memuaskan rasa humornya, menjajal daya khayalnya. Masa kuliah mereka habiskan di tempat yang berbeda. Dia kuliah di UI dan untuk itu terpaksa menumpang di dapur pamannya di Lenteng Agung karena beliau beranak delapan dan itulah satu-satunya tempat yang masih muat digelari kasur. Lana kuliah di USC yang mengharuskannya tinggal di Los Angles. Sama-sama ‘L.A’, baru kalau diuraikan perbedaan kelasnya terlihat, canda mereka selalu. Namun ada kalanya perbedaan insignifikan itu, aksara L dan A, menjadi satu-satunya penghibur kala kangen mereka tak lagi terbendung. Lana tak menyelesaikan kuliahnya di USC, dan itu tidak masalah. Bisnis keluarganya terlalu banyak untuk menunggu sebuah gelar kesarjanaan. Lain halnya dengan dia yang mencicil gelar demi gelar, mengetuk pintu demi pintu demi beasiswa, lalu kembali berjuang meniti karier akademis yang terjal, yang tak akan pernah membuatnya sekaya raya Lana. Saat dia menjadi dosen, hidup sederhana dalam rumah cicilan tipe 36 di perumahan milik universitas yang sebagian masih rawa-rawa, Lana membantunya pindahan, bahkan menginap dan ikut tidur di atas tikar. Pendar-pendar televisi pemberiannya menyemarakan dinding polos yang tak berhias. Lana tak punya koloni di bulan, tapi penghasilannya lebih dari cukup untuk menghadiahkan televisi. Lana tinggal seminggu di rumah itu. Setelah kita mencoba hidup 24 jam X 7 hari dengan sesorang dan tidak merasa bosan maka orang itu bisa kita nikahi, Lana berteori. Mendengar ucapan Lana, ia tertawa sampai berurai air mata, diikuti Lana sampai tercekik-cekik. Saya tidak mungkin menikahi kamu, ia berceletuk di ujung tawanya. Barulah Lana sadar mereka berdua tertawa karena alasan yang berbeda. Satu hari dia bilang kalau dia punya pacar. Baru seminggu. Seorang gadis tingkat akhir yang lugu, kaku dan tidak seru. Tidak percaya UFO, tidak suka Kho Ping Hoo, dan tidak peduli ada tidaknya konspirasi global selama nasi tersaji di meja makan keluarganya setiap hari, selama adzan masih berkumandang lima kali sehari. Kenapa kamu bisa suka, Lana bertanya. Karena dia mau sama saya, ia menjawab. Lana spontan tertawa, keras dan lama. Ia hanya tersenyum dan menunggu tawa Lana usai. Saya akan menikah, lanjutnya saat hening. Bagaimana kamu bisa menikahi orang yang baru kenal, yang tak seru, yang tak bisa menghargai keunikan pikiranmu, yang tak bisa kamu ajak bercanda dan berkhayal semalam suntuk, cecar Lana yang mulai marah karena percakapan itu makin tidak lucu. Dia diam, menatap Lana dengan lelah. Dia jemu menanti yang tak pasti. Dia jenuh menjadi pihak yang tak berdaya. Manusia mana yang tidak, pikir Lana. Namun dirinya tak bisa berbuat apa-apa. Keadaan mereka terlampau jauh berbeda. Terkadang Lana berpikir keajaibanlah yang menciptakan manusia satu itu. Bagaimana mungkin lingkungan serba kekurangan, kolot, konservatif, ortodoks, kampungan, dan segala ajektif yang menandakan sindrom klaustrofobik sosial, mampu menghadirkan dia yang sebegitu canggih dan gila. Seolah dia terbelah dalam dua dunia: dunianya bersama Lana, dan bersama sisa dunia tanpa Lana. Lana ingat saat terakhir kali nomor itu tertera di layar ponselnya: Besok saya lamaran. Doakan, ya. Lana tergeli sendiri, apa yang harus didoakan? Hidup berjalan sesuai kontrak yang disepakati antar-roh sebelum terlahir jadi daging ke dunia. Apapun yang terjadi bukanlah keberuntungan atau kesialan, melainkan eksekusi kontrak belaka. Jadi, apakah seseorang bisa dibilang sial kalau sebenarnya kesialannya itu direncanakan? Lana tambah stress saat pertama kali mendengar konsep itu di retret anti-stres. Akhirnya Lana tak tahan lagi, menelpon membabi buta: Saya mohon, jangan pergi melamar ke sana. Kalau kamu menikah, saya akan jadi orang paling kesepian di dunia. Kalau perlu saya yang melamar ke orang tua kamu. Jangan bohongi diri kamu. Cuma saya yang mengerti siapa sebetulnya kamu… Ia memotong, dingin, seolah disusupi roh asing yang tak Lana kenal: Selama ini kamu cuma mengenalku dalam versi yang kamu mau. Aku begitu karena kamu. Kamu tidak pernah tahu siap diriku sebenarnya. Lana menggeleng. Tidak mungkin. Barangkali ia salah sambung. Perjanjian macam apa ini? Benarkah ini roh yang sama, teman sebangkunya sejak SMA, yang selalu berkata mereka adalah sejiwa terbelah dua, soulmate? Lana menutup telepon. Aku ditipu. Breach of contract. Anaknya yang paling besar sudah mau SD, mereka masih tinggal di rumah yang sama. Lana tahu itu dari seorang alumni. Dan kamu belum menikah? Temannya itu bertanya, hati-hati. Lana menggeleng ringan dengan ekspresi yang bikin iri. Ada kemerdekaan di sana, penerimaan, dan keberanian untuk menjadi beda. Sejak dulu memang hanya Lana yang punya itu semua, temannya membatin. Bergaul dengan Lana seperti hanyut dalam air sejuk, tetapi kesejukan itu lama-lama menjadi dingin yang mengintimidasi. Temannya pun permisi pergi, meninggalkan Lana yang kehilangan belahan jiwanya pada reuni akbar, pada saat jiwa-jiwa yang terpisah seharusnya kembali bertemu. Digit terakhir. Jatuh pada angka nol. Jempol Lana bergetar seolah dibebani bergunung-gunung sampai batin yang dikoleksinya sepanjang hayat. Hatinya lalu mengukur dan menimbang: akankah aku bertambah tenang bila berhasil membuktikan pada diriku, pada dia, pada dunia, kalau aku baik-baik saja? Satu percakapan telepon akan membuktikannya. Satu dosis kejujuran sebelum Lana pergi meracuni tubuh dengan kemoterapi-racun yang berbohong jadi obat. Jempol itu melayang di atas nol. Kejujuranlah obat sejati. Suara sintetik bernada tinggi menggema di ruang tunggu yang lenggang. Tombol terakhir dipencet sudah. Aku mencintaimu dan tidak akan berubah. Tombol merah yang Lana pilih menghapus kesembilan digit angka pada layar ponsel yang berwarna biru. Seorang perempuan berseragam menghampirinya, ‘Bapak Maulana, mari saya antar ke pesawat.’ Lana tidak terburu-buru. Tangannya bergerak pelan dan khidmat. Pesawat itu pasti mau menunggu seorang pesakitan untuk melipat dan menyimpan secarik kertas ke dalam dompet, sebagaimana kertas itu sudah terlipat dan menunggu bertahun-tahun di tempat sama. Lalu lana beringsut hati-hati ke kursi roda yang dibawakan khusus untuknya. ‘Tidak apa-apa pak?’ petugas itu bertanya saat melihat mata Lana. Lana tersenyum tipis, ringan, ekspresi yang memancing rasa iri. Ada kejujuran di sana, kepasrahan, dan keberanian untuk menjadi beda. Namun ada juga bulatan air menyerupai angka nol yang menyembul di pelupuk mata. Lana menghancurkan bulatan itu dengan punggung tangan, ‘Tidak apa-apa.’   Pendekatan Struktural (Objektif) Pendekatan struktural, sering juga dinamakan pendekatan objektif, pendekatan formal, atau pendekatan analitik, bertolak dari asumsi dasar bahwa karya sastra sebagai karya kreatif memiliki otonomi penuh yang harus dilihat sebagai suatu sosok yang berdiri sendiri terlepas dari hal-hal lain yang berada di luar dirinya. Bila hendak dikaji atau diteliti adalah aspek yang membangun karya tersebut seperti tema, alur, latar, penokohan, gaya penulisan, gaya bahasa, serta hubungan harmonis antaraspek yang mampun membuatnya menjadi sebuah karya sastra. (Kinayati dan Noldy, dalam Teori Apresiasi dan Pembelajaran Prosa, 2008:309-310) Oleh karena itu yang akan dianalisis adalah tema, alur, latar, penokohan, gaya penulisan, dan gaya bahasa. 1. Tema Dalam cerpen Lara Lana di atas bertemakan tentang kekecewaan. Kekecewaan dan kesedihan Lana yang tidak bisa menikah dengan sahabatnya. “…Saya mohon, jangan pergi melamar ke sana. Kalau kamu menikah, saya akan jadi orang paling kesepian di dunia. Kalau perlu saya yang melamar ke orang tua kamu. Jangan bohongi diri kamu. Cuma saya yang mengerti siapa sebetulnya kamu…” 2. Plot/Alur Alur yang dipakai adalah alur gabungan. • Permulaan (expotition): Persahabatan antara Lana dan teman Lana (ia) dari bangku SMA. • Perumitan (crisi): Lana dan temannya mempunyai status sosial yang sangat berbeda. • Pertikaian konflik (inciting force & raising action): Lana yang mulai suka kepada sahabatnya ini dan ingin mengajaknya menikah. • Klimaks (climax): Kesedihan dan kekecewaan Lana yang harus menerima kenyataan bahwa temannya (ia) akan menikah dan melakukan prosesi lamaran. Namun Lana masih tidak bisa menerima hal itu. • Peleraian (falling action): Dengan berat hati, karena melihat keteguhan temannya ini yang ingin menikah. Lana pasrahkan semuanya. • Akhir (conclusion catasroph): Lana jatuh sakit, dia memilih untuk pergi jauh meninggalkan semua kenangannya dengan sahabatnya itu. Lana mengucapkan kalimat perpisahannya kepada sahabatnya, yakni “Aku mencintaimu dan tidak akan berubah.” 3. Latar • Di ruang tunggu. “Ruang tunggu selalu memancing dilema dalam hatinya,…” • Di rumah sahabatnya Lana. “Lana tinggal seminggu di rumah itu.” • Di tempat reuni. “Lana yang kehilangan belahan jiwanya pada reuni akbar,…” • Di bandara. “Seorang perempuan berseragam menghampirinya, ‘Bapak Maulana, mari saya antar ke pesawat.”’ 4. Penokohan • Lana: tokoh sentral, yang digambarkan oleh penulis sebagai seseorang yang kaya raya, baik, dan berkeinganan keras. • Temannya Lana (ia): tokoh sentral, seseorang yang sederhana, berpendidikan, dan berpendirian teguh. • Temannya Lana saat reuni: tokoh pelengkap (perifferal), baik. • Perempuan berseragam (pramugari): tokoh pelengkap, baik. • Petugas di bandara: tokoh pelengkap, baik. 5. Gaya Penulisan Dewi Lestari (Dee) menggunakan gaya penulisan yang ringan. Pesan yang ingin disampaikannya kepada pembaca akan mudah diterima. Kedinamisan dan karakter penulisannya yang lugas ditampilkan tanpa mengurangi nilai estetikanya. Ritme yang ditampilkan tidak mendayu-dayu. Juga tidak ruwet, bahkan rapi. Dee peduli ejaan dan mematuhi gramar (ia tidak pernah salah untuk membedakan mana ‘di’ yang awalan dan mana pula ‘di’ yang preposisi), ketika pada saat yang sama dengan luwes, tanpa terasa dibuat-buat, memasukan kata asing ke dalam cerpennya seperti dalam ‘breach of contract’ dalam cerpen di atas. 6. Gaya Bahasa • Personifikasi: “Sederet angka mencuat dari kertas putih, menusuk mata Lana.” Sedereret angka yang mencuat dan menusuk, bermaknakan mengingatkan kembali akan luka di kenangan yang lalu. • Retoris: “Mungkin karena Lana sudah tidak yakin kapan akan kembali, akankah dirinya kembali.” Penulis menggunakan gaya bahasa retoris yaitu gaya bahasa yang menggunakan pertanyaan yang bukan untuk benar-benar bertanya, karena sebenarnya pertanyaan itu tidak perlu dijawab, karena jawaban-jawabannya telah terimplisit pada maksud pertanyaan semula. • Hiperbola: “Jempol Lana bergetar seolah dibebani bergunung-gunung sampai batin yang dikoleksinya sepanjang hayat.” Kalimat di atas bermaknakan penderitaan yang sangat dalam. • Asosiasi: “Rasa sayang dikemas dalam kiasan seperti membungkus puteri dalam gaun persta lalu dilepas anggun ke lantai dansa. Cantik mengundang tapi membuat segan.” • Metafora: “Lana kenal banyak BMW bermesin bajaj, dan semua itu habis ia hina-hina.” Bajaj dan BMW melambangkan orang yang miskin dan kaya. • Repetisi: “Dia diam, menatap Lana dengan lelah. Dia jemu menanti yang tak pasti. Dia jenuh menjadi pihak yang tak berdaya.” Kata “Dia” terus diulang-ulang untuk mencapai efek tertentu dalam penyampaian maknanya. • Paradoks: “Bagaimana mungkin lingkungan serba kekurangan, kolot, konservatif, ortodoks, kampungan, dan segala ajektif yang menandakan sindrom klaustrofobik sosial, mampu menghadirkan dia yang sebegitu canggih dan gila.” • Kiasan: “Akhirnya Lana tak tahan lagi, menelpon membabi buta…” Kata membabi buta bermaknakan melakukan sesuatu dengan tergesa-gesa dengan penuh emosi. • Simbolik: “Bergaul dengan Lana seperti hanyut dalam air sejuk,…” Air sejuk merupakan perlambangan dari kebahagiaan, rasa nyaman. • Klimaks: “akankah aku bertambah tenang bila berhasil membuktikan pada diriku, pada dia, pada dunia, kalau aku baik-baik saja? Terjadi penegasan yang makin lama makin mengeras. • Sinonimisme: “Lana tidak terburu-buru. Tangannya bergerak pelan dan khidmat.” Kata tidak teburu-buru dengan pelan sebenarnya memiliki makna yang sama. • Influen: “Aku ditipu. Breach of contract.” Penulis menggunakan istilah Breach of contract untuk menyatakan pelanggaran atas kesepakatan.
Windi Eliyanti
Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia
Universitas Negeri Jakarta

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar